A. Pendahuluan
Akupunktur telah lama dikenal sebagai salah satu pengobatan tradisional dengan cara merangsang area di permukaan tubuh, dan saat ini sudah dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif di pelayanan kesehatan. Transduksi rangsang dari titik akupunktur yang memberi fenomena penyembuhan melalui perubahan fungsional organ yang dapat diukur secara kimiawi maupun hormonal cukup menarik untuk diteliti secara ilmu dasar.
Dengan penelitian pelacakan bahan radio aktif teknisium perteknetat dapat dilihat jalur migrasi sinar gamma yang tidak memenuhi persyaratan sistim anatomis pembuluh darah maupun getah bening, dan dilanjutkan dengan penelitian biofisika melalui pengukuran kelistrikan jaringan terutama profil tegangan listrik titik akupunktur.
Dasar pengukuran kelistrikan titik akupunktur dengan perangkat lunak komputer dapat mengembangkan penelitian transduksi signal secara bio molekuler menggunakan bahan kimia maupun rangsangan sinar laser membuktikan adanya perubahan profil tegangan listrik setelah pemberian rangsangan pada titik akupunktur.
Perubahan tegangan listrik titik akupunktur ternyata terjadi pada kelainan fungsi organ pankreas, baik pada hewan coba tikus westar maupun penderita Diabetes Mellitus. Meskipun titik akupunktur belum dapat ditemukan secara histologis, tetapi fenomena biofisika, kedokteran nuklir maupun biomolekuler menunjukkan adanya karakteristik fungsional yang akan memberi pengaruh pada pengembangan IPTEK Kedokteran ( Saputra, 2010)
Perkembangan akupunktur di Indonesia tidak ketinggalan dibanding dengan negara-negara lain. Akupunktur pertama kali masuk Indonesia diperkirakan dibawa oleh perantau/ pedagang-pedagang dari Cina. Tahun 1963 Departemen Kesehatan melakukan penelitian & pengembangan cara pengobatan timur termasuk akupunktur. Atas instruksi Menkes RI waktu itu (Prof.dr. Satrio) dibentuk tim riset ilmu pengobatan tradisional timur di RSCM.
B. Definisi Akupuntur
Cara pengobatan dengan menusukkan jarum pada area khusus di permukaan tubuh yang disebut sebagai titik akupunktur. Akupunktur berasal dari Bahasa Latin, yaitu: acus, “jarum” (kata benda), dan pungere, “tusuk” (kata kerja) atau dalam Bahasa Mandarin disebut zhen jiu dimana zhen (tusuk) dan jiu (bakar), atau dikenal juga sebagai terapi “moxibustion” yang merupakan suatu teknik terapi kesehatan dengan cara memasukkan atau memanipulasi jarum ke dalam “titik akupunktur” tubuh. Dengan cara ini diharapkan akan memulihkan kesehatan dan kebugaran, dan khususnya sangat baik untuk mengobati rasa sakit yang diderita pasien (Sim,2010).
C. Cara Kerja Akupuntur
![]() |
Gambar 1. Mekanisme Kerja Akupunktur
|
Secara singkat, disekitar titik akupunktur banyak sekali terdapat ujung saraf dan pembuluh darah sehingga dapat memperbesar respon rangsangan. Mast cell akan melepaskan histamin, heparin dan kinin protease sehingga akan menambah vasodilatasi. Histamin akan membebaskan NO (Nitric Oxide) dari endotel vaskuler yang merupakan mediator berbagai reaksi-reaksi kardiovaskuler, neurologis, imun, digestif dan reproduksi. Selain itu, mast cell juga akan melepaskan platelet activating factor (PAF) yang kemudian diikuti pelepasan serotonin dari pletelet. Serotonin akan merangsang nosiseptor sendiri dan meningkatkan respon nosiseptor terhadap bradikinin. Bradikinin merupakan vasodilator kuat yang dapat menyebabkan permeabilitas vaskuler. Transduksi seluler menunjukkan bahwa titik akupunktur merupakan sekumpulan sel aktif listrik yang akan memudahkan terjadinya pertukaran ion meskipun dengan rangsangan minimal sedangkan pada titik yang bukan merupakan titik akupunktur tidak menunjukkan adanya perubahan. Transduksi interseluler dari titik akupunktur (low resistence point) terjadi melalui meridian yang merupakan jalur spesifik yang pada hakekatnya merupakan intercelluler signaling. Pada refleks kutaneosomatoviscera stimulasi titik akupunktur yang menghasilkan de qi (sensasi baal, berat dan ngilu) akan dihantarkan oleh serabut Aδ, serabut C dan serabut grup 2 di otot akan menuju kornu posterior medulla spinalis.
D. Indikasi yang Cocok untuk Akupuntur
Akupunktur paling sering digunakan untuk berbagai masalah muskuloskeletal (nyeri leher, nyeri punggung unilateral, nyeri lutut, kaki dan telapak). Cedera jaringan lunak, kemudian osteoartritis (khususnya OA lutut, pergelangan kaki, sendi acromioclavicular, cervical spine). Kondisi nyeri lainnya: nyeri kepala tipe tegang, nyeri wajah atipikal, nyeri gigi, nyeri dada yang bukan karena gangguan jantung dan migrain. Kondisi lainnya: dysmenorrhoea, nyeri akibat irritable bowel syndrome, irritative bladder syndrome, mual, hay fever, rinitis alergi, xerostomia, menopausal hot flushes, dan masalah kulit lokal yang reversibel. Akupunktur tidak akan mengembalikan perubahan struktural, seperti degenerasi permukaan sendi pada osteoarthritis, namun dapat mengurangi nyeri dan peradangan. Nyeri nosiseptif berespon lebih baik daripada nyeri neurogenik atau nyeri yang tidak diketahui penyebabnya. Seperti banyak pengobatan lain, akupunktur paling baik pada kasus-kasus pada awal onset dan pada kasus yang ringan, sebelum penyakit menjadi lebih kompleks yang disertai dengan perubahan psikologis.
E. Kontraindikasi untuk Akupuntur
- Kegawatdaruratan medik dan kasus yang memerlukan pembedahan. Akupunktur merupakan kontraindikasi dalam keadaan darurat. Dalam kasus seperti itu, pertolongan pertama harus diterapkan dan transportasi ke pusat darurat medis harus segera dilakukan. Akupunktur tidak boleh digunakan untuk menggantikan intervensi bedah yang diperlukan
- Keganasan. Akupunktur tidak boleh digunakan untuk pengobatan tumor ganas. Secara khusus, penusukan jarum di lokasi tumor tidak diperbolehkan. Namun, akupunktur dapat digunakan sebagai pengobatan komplementer atau pelengkap, berupa kombinasi dengan pengobatan lain, untuk menghilangkan nyeri atau gejala lainnya, untuk mengurangi efek samping kemoterapi dan radioterapi, dan untuk meningkatkan kualitas hidup.
- Penggunaan obat anti-koagulan dan gangguan pendarahan. Penusukan jarum harus dihindari pada pasien dengan gangguan perdarahan dan pembekuan darah, atau yang sedang menjalani terapi antikoagulan atau mengonsumsi obat dengan efek antikoagulan.
- Kehamilan. Akupunktur dapat menginduksi persalinan, oleh karena itu, tidak boleh dilakukan dalam kehamilan, kecuali diperlukan untuk tujuan terapeutik lainnya dan dilakukan dengan sangat hati-hati. Penusukan saja dengan manipulasi tertentu pada titik akupunktur tertentu dapat menyebabkan kontraksi uterus yang kuat dan menyebabkan aborsi. Namun, akupunktur dapat digunakan dalam kehamilan untuk tujuan menginduksi persalinan atau memperpendek durasinya, mengurangi nyeri persalinan dan mual-muntah selama kehamilan. Efek samping yang mungkin timbul selama tindakan akupunktur berupa rasa tidak nyaman atau nyeri di tempat penusukan, hematom, acushock, infeksi. Efek samping dapat diminimalkan dengan teknik penusukan yang tepat dan terlatih, penggunaan jarum sekali pakai dan memberikan perhatian khusus pada individu yang baru pertama kali menjalani tindakan akupunktur atau dalam kondisi lemah (sakit berat, kurang istirahat, intake makanan yang kurang) dan memberikan penjelasan secara adekuat kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan dan rasa nyeri/tidak nyaman yang mungkin timbul sehingga pasien tidak merasa takut berlebihan.
Demikian yang dapat kami bagikan tentang pengertian akupuntur. Semoga bermanfaat.
